Kamis, 24 Agustus 2017

Vaksin MR Solusi Cegah Campak-Rubella?

Dokter anak Arifianto SpA mengatakan bahwa pemberian vaksin rubella atau vaksin rubella-campak memiliki urgensi karena campak termasuk salah satu dari 10 penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Vaksin MR adalah salah satu upaya terbaik untuk mencegah penyakit ini.

Dia mengatakan bahwa tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mengurangi angka kematian anak akibat campak karena virus campak itu sendiri belum efektif. Upaya pencegahan sebelum sakit. "Vaksin ini merupakan salah satu upaya pencegahan campak terbaik," kata Dr. Apin, sapaan keluarga, saat dihubungi Selasa (22/8).

Karena itu, dokter Apin juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti program imunisasi vaksin campak dan rubella. Dia menambahkan bahwa imunisasi MR dapat mencegah anak-anak dari campak dan rubella. Pada gilirannya, katanya, dapat mengurangi angka kematian dan morbiditas karena tingkat campak dan cacat pada bayi baru lahir karena rubella.

Selain itu, menurut dokter Apin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa imunisasi tahun lalu. Fatwa tersebut mengatakan bahwa imunisasi pada dasarnya diperbolehkan (mubah) sebagai bentuk upaya untuk mempengaruhi kekebalan dan mencegah terjadinya penyakir tertentu.

Tak hanya mengeluarkan fatwa tersebut, MUI juga membuat sebuah pernyataan dalam sebuah surat rekomendasi yang dikeluarkan pada tanggal 31 Juli 2017. Dalam surat tersebut MUI menyatakan bahwa MUI mendukung program Kementerian Kesehatan RI mengenai kampanye dan pengenalan campak dan rubella. ) Imunisasi pada tahun 2017 dan 2018.

"Ini juga mendapat dukungan dari rekomendasi MUI untuk menerapkan imunisasi MR," kata Arifianto.

Arifianto mengatakan bahwa tidak adanya sertifikasi halal tidak berarti bahwa vaksin MR menggunakan bahan-bahan yang dilarang oleh Islam. "Yang saya tahu vaksin campak dan rubella dalam proses pembuatannya tidak melibatkan bahan dari babi," katanya.

Menurutnya, tidak ada sertifikasi halal dalam vaksin MR karena produsen vaksin tidak memiliki atau belum mengurus sertifikat. Padahal, katanya, tidak hanya vaksin MR, namun mayoritas vaksin di Indonesia tidak memiliki sertifikat halal.

Ia juga mengakui bahwa tidak adanya sertifikat halal merupakan masalah di masyarakat. Namun, katanya, ini adalah masalah yang berbeda tanpa adanya konten ilegal atau vaksin. "Cuman tidak dalam urusan sertifikat halal atau belum hati-hati, jadi kedua hal ini berbeda," kata Arifianto.

Apin juga mengatakan bahwa program ini bukan program baru. Program vaksinasi MR direncanakan beberapa tahun sebelumnya. Dia mengatakan bahwa vaksin MR adalah bagian dari program Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mungkin masalahnya adalah sosialisasi Kementerian Kesehatan kepada masyarakat kurang dari masyarakat yang dinilai sebagai program improvisasi, oleh karena itu orang benar-benar tidak mengerti tentang vaksin rubella campak ini," katanya.

Arifianto menambahkan bahwa tujuan program imunisasi MR adalah untuk menghilangkan penyakit campak pada tahun 2020. Untuk mencapai langkah ini, semua negara diharapkan dapat memperluas imunisasi untuk mencapai lebih dari 95 persen target imunisasi mereka.

"Sekali satu campak telah berubah dalam campak dikombinasikan dengan rubella yang disebut rubella atau campak MR," katanya, menjelaskan.

Arifianto mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara pertama yang menerima vaksin rubela campak, namun ada negara lain yang mendahului sejak 2015, seperti Myanmar, Kamboja dan Vietnam. "Sebenarnya, Indonesia mengikuti serangkaian apa yang telah dilakukan di negara lain," katanya www.serbaserbimanfaat.com.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan melaksanakan tahap awal vaksinasi MR pada bulan Agustus dan September 2017 untuk seluruh provinsi di Pulau Jawa; Sekitar 36.776.100 atau 55 persen penduduk Indonesia berusia 9 bulan sampai 15 tahun. Kemenkes juga membenarkan proses pengajuan vaksin sertifikasi halal rubella campak (MR) ke Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar